Selamat Datang Visite Yatamo Express Papua

INVESTIGASI KEJADIAN KORBAN DI KABUPATEN ILAGA

PEMERINTAH PUSAT JANGAN “ TUTUP MATA”
SEGERA INVESTIGASI KEJADIAN KORBAN DI KABUPATEN ILAGA

( Kab. Puncak Papua )


(Telingah ku sakit, Hati ku sedih mendengar Berita korban akibat Pemekaran)



Pemekaran di tanah Papua dan di daerah lainnya, bukan untuk menjadikan masyarakat sebagai Objek korban tetapi untuk Pemerataan Pembangunan Nasional baik fisik maupun non-fisik diberbagai aspek. Melihat permasalahan tentang pelaksanaan PILKADA yang telah dan sedang terjadi di Kabupaten Ilaga telah menewaskan sebanyak 46 koban jiwa manusia. Pada akhir bulan Juli 2011 dalam peristiwa pertama telah menewaskan 21 korban jiwa manusia.

Sebenarnya, Peristiwa itu telah menjadi salah satu fakta, namun karena tidak diselesaikan dengan serius secara birokrasi tersistem. Sehingga, seiring dengan berjalannya PILKADA Maka, peristiwa kedua pun terjadi pada akhir bulan September 2011 yang menewaskan 25 korban jiwa manusia. Dalam kedua insiden ini, banyak masyarakat yang korban luka parah.

Berbagai upaya penyelesaikan masalah ini, sudah dilakukan oleh kedua belah pihak namun belum menemukan solusi yang tepat. Hanya karena ajang kepentingan perebutan kursi (posisi), masyarakat dijadikan Objek korban. Pada hal peristiwa ini bukan tujuan dari pemekaran semestinya.

Kejadian korban oleh ulah PILKADA bukan hanya di Kabupaten Ilaga saja tetapi di kabupaten Yahukimo pada beberapa bulan zilam dan juga di derah pemekaran lain di Tanah papua.  Saya berpendapat bahwa;

  1. Pemerintah pusat jangan”tutup mata”segera investigasi persoalan ini melalui sistem birokrasi yang ada.
  2. Pemerintah menjadi MEDIATOR dalam solusi kronologi dengan melibatkan Tokoh Adat, Tokoh Agama, tokoh Masyarakat dan Para keluarga korban serta Instansi lain yang terkait dan,
  3. Batalkan atau bubarkan Pilkada, jika pemerintah tidak bertanggung jawab dalam penyelesaiannya.


Memungkinkan supaya PILKADA dapat tersukses dengan baik , maka tahap awal harus dibuat pernyataan“ IKRAR PILKADA PARA BALON” di depan masyarakat (di atas panggung) yang berstatement tentang; dari Awal, pertengahan dan pada akhirnya pelaksanaan PILKADA harus dapat berjalan dengan Aman, Tertib dan Damai. Sehingga, jika ada kubuh para calon yang beranarkis dapat disanksikan untuk ’tidak mengikuti proses PILKADA’ (dinyatakan GUGUR).


Akhirnya, berpolitik adalah bagian kewajaran dalam suatu Negara, namun masyarakat diharapkan tidak terprovokasi dengan politik praktis yang dapat merugikan kita. Marilah mencari solusi yang terbaik untuk kedamaian tanah dan lingkungan kita.

Peristiwa Ilaga adalah masalah vertikal bukan horizontal sehingga, Instansi terkait segera selesaikan sebelum ada korban berjatuhan!


OLEH = Moses You

Mahasiswa = Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga

No.Contact = 081340787697

Hanya Karena Iri Ternak Sapi, Ayah dan Anak Dituduh Anggota TPN/OPM di Yatamo

Yang Terselip dari Peristiwa Baku Tembak Di Paniai

EPOUTO, sebuah kampung di tepian Danau Tage yang kini pusat ibukota Distrik Yatamo, pada tiga puluh tahun silam, merupakan daerah sasaran operasi militer. Kala itu operasi militer digencarkan di seluruh wilayah Paniai. Pasukan militer diturunkan dengan berbagai sandi operasi untuk memburu Jenderal Thadeus Johny Kimema Jopari Magai Yogi –Panglima TPN/OPM Devisi II Makodam Pemka IV Paniai– yang sedang bergerilya di rimba Papua. Bersama pasukannya, Yogi keluar masuk hutan dan keberadaannya meresahkan warga di perkampungan yang disinggahi.

Tidak sedikit warga sipil dituding mendukung perjuangan Yogi. Nama-nama mereka dikantongi pihak militer, atas laporan “kaki tangan” yang juga warga setempat.


Akhir tahun 1998, Ferdinandus Tekege, salah satu pemuda Epouto, dituduh sebagai anggotanya Thadeus Yogi. Oleh beberapa oknum yang ternyata masih kerabat keluarga, Fery –sapaan akrab Ferdinandus Tekege– dilaporkan kepada pihak aparat di Enarotali, ibukota Distrik Paniai Timur, bahwa ia adalah salah anggota TPN/OPM dan sering menyelamatkan keluarga Yogi.

Tak pelak, atas jasa informan, Fery langsung diburu militer. Ia saat itu Pewarta di Paroki St. Fransiskus Assisi Epouto sekaligus menjabat Sekretaris Desa Epouto. Karena tak berhasil, istri, anak-anak serta kerabat keluarganya yang jadi target operasi. Mereka dihukum dan dianiaya.

Fery karena merasa terancam, memilih hengkang dari kampung halamannya. Meninggalkan rumah, istri dan anak-anak serta ternak piaraan. Hidup di belantara hutan, berpindah-pindah dari satu gunung ke gunung yang lain selama beberapa tahun lamanya.

Di saat operasi militer masih berlangsung, keluarga terdekat Ferdiandus Tekege masih terus diincar. Sekalipun tak ada kaitan dengan aksi Yogi, juga bukan simpatisan TPN/OPM, beberapa orang di Epouto dipukul, dihukum, direndam selama berjam-jam dalam parit bahkan di Danau Tage. Tindakan represif pasukan militer kala itu sungguh tragis! (Lihat “Seri Memoria Passionis: Laporan Situasi Hak Asasi Manusia di Wilayah Paniai dan Tigi, Irian Jaya; Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Jayapura, Oktober 1998).

***

KISAH kelam masa lalu kembali menimpa Ferdinandus Tekege. Orang yang tidak senang dengan keberadaan keluarganya, rupanya belum habis. Diam-diam, oknum tertentu melaporkan kepada pihak kepolisian bahwa ia dan anak sulungnya, Siprianus Tekege, bagian dari TPN/OPM yang bermarkas di Eduda.

Sebuah pesan singkat dari seorang polisi, beredar luas. “Ferdinan Tekege dan Siprianus Tekege harus ditangkap, disiksa dan dibunuh atau dikubur hidup-hidup. Karena mereka dua adalah TPN/OPM yang dengan bebasnya ke sana - ke mari di kota Enaro”.

Demikian isi SMS yang mengagetkan seorang Kepala Dinas di Pemkab Paniai. Identitas kedua orang yang disebutkan dalam pesan singkat itu dikenal baik oleh Kepala Dinas tadi. Segera menghubungi nomor handhpone Fery dan Sipri, tapi tidak aktif. “Oh, berarti tidak ada di Enarotali. Mungkin sudah ke kampung,” pikir sang Kepala Dinas.

Ia langsung mencari orang-orang yang hendak ke Epouto. Dengan maksud, isu melalui SMS itu bisa disampaikan kepada yang bersangkutan.

Ferdinandus Tekege tercatat sebagai PNS di salah satu SKPD. Sedangkan anaknya, Siprianus Tekege sementara masih menunggu SK CPNS Formasi tahun 2009. Keduanya selama ini tinggal di rumah mereka, di Epouto. Karena belum ada perumahan dinas di Enarotali ataupun Madi. Setiap hari kerja, mereka dua berangkat dari Epouto menuju kantornya dengan terlebih dahulu menyeberang Kali Yawei. Dari Enarotali selanjutnya menggunakan jasa ojek atau bus Pemda ke Madi, begitupun sebaliknya. Hanya hari tertentu bermalam di Enarotali.

Semenjak beberapa hari terakhir situasi keamanan di wilayah Paniai tidak kondusif, banyak orang pulang kampung. Kepala Dinas berpesan kepada seorang lelaki paru baya, “Segera ke Epouto dan tolong bawa surat ini.” Diatas secarik kertas berisi kutipan SMS itu tertera pula tandatangannya, supaya bisa meyakinkan mereka dua.

Rabu 17 Agustus 2011, sekitar pukul 16.15 WIT, pemuda yang membawa kabar tiba di Potibutu. Segera setelah sodorkan surat dari Kepala Dinas, Fery langsung membuka dan membaca dengan suara lantang isi surat. Beberapa orang yang ada di rumahnya, tidak percaya. Tapi, setelah surat itu dilihatnya langsung, isak tangis pun memecah kesunyian sore itu.

Dalam suasana haru, anak istri dan sanak familinya melepas Fery dan Sipri keluar dari rumah. Meninggalkan kampung halaman dan mengungsi ke hutan.

Selama tinggal di hutan, keduanya harus berhadapan dengan situasi baru. Dingin. Hujan. Lapar dan haus juga tak bisa terhindarkan. “Sobat, sekarang ini kami dua sedang lapar sekali. Perut kosong, dari kemarin kami dua tidak makan dan minum,” Sipri mengirim SMS kepada seorang sahabatnya, Kamis (18/8) siang.

Tak ada tempat istirahat, Fery berusaha mengumpulkan kayu seadanya untuk bikin pondok di tengah hutan. Sipri dari pagi sudah lemas, karena lapar. Sesekali ia berusaha mengusir nyamuk-nyamuk hutan yang terus menggigitnya.

“Heran, di kampung kami ternyata masih ada orang berhati busuk. Mereka pergi lapor yang tidak-tidak. Kenapa bapak dan saya dituduh seperti begitu?,” keluh Sipri.

***

BUAH hati dari pasangan (alm) Nicolaus Tekege dan (alm) Lusia You itu menikah dengan Yohana Yeimo, tahun 1985. Ferdinandus Tekege dikaruniai 9 anak. Lima putra dan empat putri. Siprianus Tekege, anak pertamanya. Siprianus sendiri mempunyai satu anak, buah kasih dengan istrinya, D. You.

Ayah dan anak ini menyelesaikan pendidikan tinggi dari kampus yang sama: Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire. Ferdinandus mendapat titel Sarjana Sosial (S.Sos) dari Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Pemerintahan (FISIP), tahun 2005. Sedangkan Siprianus, alumni Fakultas Pertanian. Dengan gelar Sarjana Perternakan (S.Pt) yang diraihnya medio 2009, pria kelahiran 14 Agustus 1986 itu diterima sebagai CPNS setelah mengikuti tes pada formasi 2009 lalu.

Sejak muda, Fery tergolong ulet dalam menafkahi keluarganya. Memelihara beberapa jenis ternak seperti kelinci, ayam dan babi, juga mengembangkan usaha pertanian di lahan warisan orang tuanya. Hingga kini usaha ternak masih dilanjutkan, bahkan ternak sapi miliknya berkembang sangat pesat. Jumlahnya puluhan ekor.

“Selama ini saya dengan bapak biasanya hanya mengurus ternak sapi milik kami. Mencari nafkah buat keluarga dengan susah payah. Tapi, hanya masalah kecil di kampung, orang pergi lapor ke pihak polisi bahwa kami dua masuk dalam anggota Yogi di Eduda. Ini aneh sekali.”

Tuduhan oknum warga sekampung sebagaimana dilaporkan kepada pihak kepolisian, diduga kuat karena dilatarbelakangi iri hati atas ternak sapi. “Iri hati dan mereka beberapa kali berusaha mau hilangkan nyawa kami,” kata Ferry.

Inisiatif melarikan diri ke hutan, menurut dia, semata-mata menjaga keselamatan nyawa setelah beberapa hari terakhir beredar isu adanya perang di Paniai. “Jangan sampai kami jadi korban.”

Laporan yang diterima pihak polisi, hanya akal-akalan dari “kaki tangan” mereka yang selama ini memang menjadi informan. Lantaran terlanjur “makan gaji” setiap bulan, terpaksa informan mengemas isu sedemikian rupa. Dengan harapan, bisa tetap eksis sebagai “pengumpul informasi” di lapangan.

Namun, dituduh sebagai pengikuti Yogi, terlalu berlebihan. Kecaman dari berbagai pihak pun dialamatkan kepada oknum pelapor. “Kami kutuk orang-orang itu,” ujar Kepala Suku Distrik Yatamo, Amandus Youw, Jumat (19/8) siang.

Bagi Amandus, tuduhan kepada Fery dan Sipri itu tidak berdasar. Oknum informan dianggap telah merekayasa fakta dan membohongi “atasan”. “Kapolres Paniai maupun anggotanya tolong jangan percaya omongan dari orang yang datang melaporkan,” tegasnya.

Amandus kemudian minta kepada si pelapor untuk segera menarik laporan palsu itu. “Supaya damai, karena kalau tidak, bisa saja nanti diselesaikan secara adat.”

Sebagai pelindung dan pengayom masyarakat, Kepala Suku dan Tokoh Masyarakat Paniai mengharapkan kepada pihak kepolisian tidak cepat mengambil kesimpulan apalagi sampai melakukan tindakan penangkapan atau penyiksaan.

Himbauan itu bukan hanya kepada bapak dan anak yang telah mengungsi ke hutan sejak empat hari lalu. Hal sama tentunya berlaku bagi semua orang yang berdomisili di wilayah Kabupaten Paniai. Aparat keamanan harus memberi warga masyarakat rasa aman menyusul makin derasnya berbagai isu belakangan ini. Apalagi pasca kontak senjata dan rentetan tembakan pada puncak peringatan HUT ke-66 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Soeharto, Enarotali, Rabu (17/8) lalu, sudah seharusnya pemerintah daerah dan aparat keamanan setempat menyatakan “Paniai Damai” agar kepanikan warga tidak berlangsung terus menerus.

“Seperti yang kemarin-kemarin itu jelas bikin semua orang takut. Jadi, Muspida harus segera bertanggungjawab terhadap situasi keamanan di Paniai,” ujar Kepala Suku Mee, Yafet Kayame, Sabtu (19/8) pagi di Enarotali.

Amandus sependapat. Ia juga meminta, penyebaran informasi tidak untuk menakut-nakuti orang. Semua pihak mesti berusaha menciptakan suasana tenang agar aktivitas sehari-hari bisa dilanjutkan kembali.

“Khusus Fery dan Sipri, jika ada masalah di kampung, selesaikan di kampung. Jangan malah saling jual hanya untuk dapat harga rokok,” tegasnya. “Apalagi, laporan masuk ke polisi menjelang aksi penyerangan dari TPN/OPM, lantas mereka dua dicap sebagai anggota yang harus ditangkap dan lain-lain, padahal orang yang lapor itu tidak senang atau karena ada masalah pribadi,” tutur Amandus.

Tuduhan sebagai anggota atau pengikuti Yogi, ujar Aman, harus dipulihkan. Warga tidak boleh dengan mudah distigma seperti itu. Orang Papua khususnya Suku Mee masih trauma dengan operasi militer masa lalu. “Saya kira, soal tuduhan itu perlu dipertanyakan langsung kepada Kapolres Paniai.”

Fery dan Sipri sebagai kepala keluarga, tentu saja sangat dinanti-nantikan istri dan anak-anak mereka. Kehilangan kehangatan suami sekaligus ayah sudah dirasakan selama empat hari terakhir. “Kalo nanti terjadi apa-apa sama mereka dua, apakah Polres dan si pelapor mampu menjamin kehidupan anggota keluarganya di kampung? Laporan ke polisi itu rekayasa, sangat tidak benar, jadi tolong ditarik kembali. Mereka dua warga biasa dan sehari-harinya bekerja untuk menafkahi keluarga,” tuturnya.

Seiring isu pendropan aparat keamanan ke Paniai, makin mengkhawatirkan kerabat terdekat Fery dan Sipri, jangan sampai ada operasi pengejaran. “Tuhan, lindungilah bapak dan anak saya,” Mama Yeimo sembari meneteskan air mata.

“Setahu saya tidak ada warga yang masuk DPO,” kata sebuah sumber di Mapolres Paniai menanggapi SMS berisi tuduhan itu.

***

SETELAH ditelusuri, ada beberapa hal yang kemungkinan besar bertujuan menjerat Fery dan Sipri. Pertama, pada pengangkatan Sekretaris Kampung (Sekkam) se-Kabupaten Paniai sebagai PNS tahun 2010 lalu, Ferdinandus Tekege yang juga staf di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Paniai, mendapat SK Sekkam Epouto. SK dari Pemerintah Pusat itu kemudian dipersoalkan oleh beberapa pihak yang tidak menghendaki ia merangkap dua jabatan sekaligus.

“Memang banyak kali mereka perkarakan saya soal SK Sekretaris Kampung. Untuk mendapat kejelasan sekaligus menyelesaikan polemik, kami sama-sama ke Bagian Pemdes dan sudah pula bertemu langsung dengan Sekda, tapi dikatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Paniai tidak berwenang untuk bisa merubah SK Pemerintah Pusat,” tutur Fery sembari menambahkan, “Jawabannya begitu dan meski jalan sudah buntu, mereka masih terus ngotot minta SK itu.”

Yang kedua, ada orang tertentu iri hati terhadap usaha ternak sapi milik keluarganya yang kini berkembang baik. Pernah pula menuduh Fery mengambil seekora anak sapi milik David Tatogo. “Itu saya sudah jelas. Jadi, saya tidak ada masalah. Tapi, mungkin dua hal ini yang melatarbelakangi mereka menuduh saya sebagai anggota Yogi,” katanya.

Persoalan yang seharusnya bisa ditangani baik di kampung, tetapi justru dikemas dengan cara meniupkan tuduhan tidak mendasar oleh oknum tidak bertanggungjawab agar amarahnya terlampiaskan karena telah diketahui pihak berwajib, memaksa mereka dua harus bertahan di tengah hutan. Sudah empat hari menahan gigitan nyamuk. Menahan haus dan lapar. “Entah kapan kami dua akan kembali ke kampung untuk bisa berjumpa dengan seluruh anggota keluarga di rumah?.” ***

http://komunitasmeeuwodidenews.blogspot.com/2011/08/hanya-karena-iri-ternak-sapi-ayah-dan.html#more


OBJEK WISATA DANAU TAGE
Sejumlah objek wisata Danau Tage, sungguh panorama alamnya sangat menarik sehingga setiap orang yang menginjakan kakinya di kawasan ini tidak lain hanya mengungkapkan satu buah kalimat "Waah, panoraman alamnya indah sekali". Obyek wisata ini terletak di Distrik Yatamo Kabupaten Paniai, Provinsi Papua.

Jarak dari ibu Kota kabupaten Paniai (Enagotadi) hingga Danau Tage tidak jauh sekitar 7 Km sebela selatan Danau Paniai sehingga memudahkan warga mengunjunginya karena jaraknya yang berdekatan. Pertualangan ke Danau Rana sepanjang ± 7 km dalam perjalanan anda disuguhkan dengan pemandangan alam yang indah, beraneka macam jenis tumbuhan dapat dijumpai di sini,akan melewati kawasan hutan lindung juga bisa menikmati keindahan kampung-kampung di pesisir danau paniai.

Untuk mencapai Tege anda bisa menggunakan alternatif satu-satunya melalui trasportasi danau. Bagi yang ingin mengunjungi atau menikmati panorma danau tage anda bisa menyewa speedboat masyarakat setempat dengan harga Rp. 500.000 PP menuju Dimiya atau Wotai. Kalau muju Dimiya jarak yang ditempuh 30 menit, sebelum kita menikmati indahnya panorama alam danau tage. Terlebih dahulu akan menjumpai sejumlah telaga di potamo dan akan menikamti juga terbentangnya pulau mayageya yang teraring bagaikan seekor kamping jantang, dan bisa juga mampir sebentar menikmati jernihnya kali Dimiya dan teduhnya telaga wauyepa di Kampung Dimiya.

Kedua dengan menggunakan speetboat yang berangkat dari dermaga Aikai langsung menuju wotai dengan jarak tempuh 5 menit dan hanya membutuhkan biaya Rp. 5.000. dari wotai berjalan kaki menuju Danau Tage melewati bukit kebouya. Dari tua kotu kita bisa menatap pertama kalinya panorama danau tage.

Danau ±150 ha² ini dikelilingi oleh Batu karang dan hamparan pasir putih yang luas membentak mengikuti garis pantai, disepanjang pantai berjejer pepohonan yang dikeliling dengan kebun masyarakat. Dikebun-kebun warga menami Ubi, tebu, keladi dan sayur-mayur serta tumbuhan lainnya. Pantai di tepian Danau Tage ini sangat cocok untuk menikamati suasana terbenamnya matahari sambil berenang anda bisa langsung menikmati pemandangan Gunang Deiyai dengan ketinggian ±2490 m diatas permukaan laut yang merupakan gunung tertinggi di Kabupaten Paniai. Pemandangan ini memberi sensasi tersendiri bagi pengunjung dikawasan ini.

Bagaikan seorang gadis desa yang menutup tabirnya bila sengaja diperhatikan, gunung ini akan tertutup kabut seolah malu bila sengaja datang untuk melihatnya. Sambil menikmati suasana pantai di tepian danau ini, anda bisa berolahraga seperti joging, barmainbola, jalan-jalan ataupun bercengkrama dengan keluarga. Bagi pencinta scuba daving anda bisa menikmati keindahan terumbu karang yang membentang mengelilingi pulau yang terkenal asri, anda juga bisa memancing disepanjang selat di danau ini.

Epouto dan Dimiya Merupakan tempat peristirahatan yang menjanjikan, kedua darah ini paling cocok dilakukan konsep wisata desa atau kampung yang menyajikan nuansa pedesaan yang sejuk dan damai dapat mengobati rasa kangen akan suasana perkampungan yang jarang ditemui di masa akan datang. Kampung Epouto terkenal yang dihuni umumnya oleh marga Youw, Tatogo dan Tekege (masyarakat Suku Mee) asal Distrik Yatamo. Disana ada perumahan misionaris yang bisa menyewa semalam Rp.250.000. Sambil santai menikmati pantulan sinar senja ditepian danau tage yang cerah sambil memandang birunya danau sepanjang mata, bagi penggila berenang anda bisa langsung menikmati air danau yang bersih dan asri.

Berkunjunglah ke pantai Igona marasa niscaya anda akan terpesona, entah apa sebabnya "pantai terindah" di danau tage ini selalu berhasil memikat mata para pengunjunggnya. Alamnya yang masih "perawan" dan belum tersentuh tangan-tangan jahil manusia menambah nuansa keteduhan pengunjung, disepanjang garis pantai terhampar pasir putih selalu ada deburan ombak menghempas yang diikuti oleh suara-suara angin bersiul menjawabnya, disepanjang pantai berjejer pohon cemara yang melambaikan selamat datang bagi pengunjungnya, anda juga bisa menikmati telaga air obiyo yang muaranya langsung berhempitan dengan pantai, keteduhan dan jernihnya air menambah ketenangan pengunjungnya.

Pantai ini terletak disebelah barat kampung epouto ±3 km dengan jarak tempu 5 menit. Perjalanan ke pantai ini selalu lancar anda bisa menggunakan speetboat. Jalan-jalan yang dilalui cenderung bergelombang dan tak banyak tanjakan sehingga bisa menempuhnya sambil bersantai. Disepanjang jalan anda bisa menikmati pemandangan perkampungan warga dengan rumah khas orang Mee, keramahan warga juga diselingi pohon pepohonan dan batu karang sepanjang jalan.Berkunkung ke Danau Tege marasa anda akan suguhkan dengan makan nota bakar dan isap tebu bisa juga merasakan berbagai macam buah-buahan. Objek wisata ini berada tepat di Kabupaten Paniai dengan ketinggian 700 m diatas permukaan laut.

Danau Tage merupakan danau terkecil di Kabupaten Paniai setelah danau Tigi dan Danau Paniai, berada dalam wilayah Ditrik Yatamo sangat cocok bagi wasatawan yang suka berpetualang dialam bebas. Danau Tage terkenal keramat bagi masyarakat sekitarnya, airnya jernih dipenuhi dengan bunga teratai diatasnya, udaranya sejuk. anda bisa menikmati ketenangan Danau Tage dengan menggunakan perahu dengan pemandangan indah di ujung senja itu tampak awan berarak-arak, bergumpal-gumpal menggantung di kanopi langit di atas Danau Tage.

Kala bersampan di tengah danau ini, kita seolah merasa jangan-jangan kita ini sudah berada di beranda sorga yang sering digambarkan begitu indah tak terkirakan. Bayangkan saja, pantulan sinar matahari senja memendarkan warna lembayung, udara yang sejuk disisipi awan-awan kelabu kelam serta putih lemah memayungi kepala kita.

Memasuki senja angin malam pun datang semilir menyumbui permukaan danau yang mulai kelam. Bila anda ingin berkeliling Danau hanya dengan biaya Rp. 300.000 masyarakat setempat siap mengantar anda berkeliling ke mana saja dengan waktu sepuasnya, anda bisa mengunjungi perkampungan warga yang mengelilingi danau ada dusun Mogokebopa, yupikauwo, wimouto, Kipo, Igona, Dagowai, Onepa, Okogopa, dan Maiyai anda akan disambut dengan senyum ramah masyarakat mee disekitanya sekaligus anda bisa mencicipi berbagai jenis ubi-ubian dengan ikan bakar, udang bakar dan colo-colo khas Paniai.

Dari pada baca saja, lebih baik datang menyaksikan sendiri panorama alam Tage biru mogoutouda sedang menanti anda. Oke......!!!

KINI YATAMO MEMBENAH DIRI MENJADI IKATAN TETAP BERSATU



Kreatifitas mahasiwa/i yatamo
YATAMO Press; Mahasiswa/I asal YATAMO (yawei, tage, mogoutouda) membenah mempertahankan keutuhan bersatu dari yang ada sebagai perwakilan untuk menyuaraka hak hidup masyarakat daearah setempat. Dengan melihat perkembangan kondisi riil  sudut pandang dari polusi udara global yang sangat berkembang pesat; penguasaan hak hidupnya orang lain di daerah dari pihak-pihak tak di kenal hanya untuk pengambisian kehartaan yang telah di berikan oleh Maha Pencipta. Maka atas haknya perlu membenahi bersama melalui ikatan atau kelompok atau komunitas yang telah di bentuk menata ini.

YATAMO nama daerah yang di berikan oleh pemuda-pemudi setempat dengan melihat pemetahan wilayahnya dengan kepanjangannya (yawei, tage, mogoutouda) di rangkum singkat  untuk membenahi mempertahankan keu tuhan bersatu, sekarang menjadi sebuah Ikatan yang menamai  IPMAYATAMO dimana kota studi mereka berada.  Ikatan atau komunitas ini dia berada di bawah ikatan lain dimana  mengikuti arus garis politik Kabupaten. Yatamo  mengikuti arus politik daerah kecamatan dengan melihat strategisnya  begitu padat dan luas daerah, sebagai menjaga hak hidup diatas tanah di daerah sendiri .

Dengan telusuri sekilas sejarah nama yatamo telah di gunakan oleh pemuda-pemuda di daerah, sebagai bagian kesatuan yang utuh menjadi popular sampai mereka memakai nama kelompok main bola, volley, sepak, dan lain-lain. Sekarang masih berjalan dengan memakai nama telah menjadi nama ikatan yag akan teresmi  waktu mendatang. Sedang mencari jalan untuk memperkuatkan ikatan ini sebagai salah satu ikatan bagian dari ikatan lain.

Ikatan Yatamo bukan sebatas ikatan; ikatan menamai tiga daerah beribukota Epouto kota kecil di masa belanda sampai penataannya sudah ada masih bayang-bayang. Namun ikatan ini untuk tujuan mengolah kota pendidikan, dan kota agama Kristen katolik, dan usah-usaha yang pernah jejaki oleh belanda orang barat, kota indah dengan gambaran pantai melingkupi penghijauaan di tengah bebatu putihan, boleh di katakan kota surga di tengah puncak pegunungan papua. Berdasarkan gambaran pengalaman riwat daerah ini; pemuda yatamo tidak mau diam untuk mengangkat kota yang di tinggalka begitu saja itu. 

Pemuda Yatamo dimanapun berada telah bersuara untuk membangkitkan hal riwayat itu; melalui ikatan. Maka sekarang  sudah bentuk ikatan  menamai IPMAYATAMO se Indonesia di pisahkan menjadi beberapa korwil adalah:

  1.  Korwil Indonesia barat; Sejawa dan bali telah bentuk menjadi IPMAYATAMO Sejawa-bali; dengan meluncurkan logo dan kostum terlebih dahulu; telah kami lampiri;
  2. Korwil Indonesia timur Sepapua telah bentuk menjadi  IPPMY  sepapua; dengan logo telah di lampiri;

Ikatan Yatamo telah nampak terbentuknya bersama di kota nabire pada tanggal hari sabtu 13 agustus 2011, di pimpin oleh Petrus You  sebagai tahapan pertemuan pertama  untuk melangkah membuka jalan pembentukan selanjutnya, di bina oleh Yohan You S. Sos.  Pertemuan pembentukan menamai rapat gladi kotor  di buka oleh Petrus You bersama panitia pelaksana dari IPPMY sekota nabire. Walaupun tidak ada dukungan dana kami tetap laksanakan sebagai perkenalan ikatan ini ada dengan agenda yang telah buat , pungkasnya.

Namun pemuda pelajar dan mahasiswa/I yatamo yang mengadakan perkenalan di kota nabire adalah berawal dari peningkatan mutu kebersatuan YATAMO mengkukuhkan; selanjutnya akan di jalani sesuai kesepakatan melalui komunikasi maupun media internet, salam bersatu dan maju terus!!!






 

Catatan penulis :

Ikatan-ikatan kecil perlu membuka ruang bebas  untuk memajukan atau mengerevolusikan hak rakyat diatas pedoman hidup bangsa dimana berpijak tempat tinggal mereka di   daerah;  mambangkitkan inteletualitas anak generasi bangsa, mari kita membenah diri diatas hak kita sebagai anak adat dan budaya bangsa)* 

Oleh
Agus Mote
Pemerhati Alam dan budaya bangsa

Terimakasih Atas Kunjungan Anda Selamat Jalan

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More